Langsung ke konten utama

Synchronize Fest 2017: 3 Hari Penuh Musisi Lokal Berkualitas




       Oktober lalu saya menyempatkan diri untuk datang ke Synchronize Fest 2017. Synchronize Fest adalah festival tahunan yang diselenggarakan di Gambir Expo Kemayoran. Acara ini berlangsung selama 3 hari. Sesuai dengan slogannya "It's not just a festival, it's a movement", festival ini bertujuan untuk memajukan karya-karya musisi lokal. Berbagai macam genre musik dari lintas generasi ada disini. Tak hanya musik, karya seni lain juga ada disini. Salah satunya mural yang digambar oleh sekumpulan remaja di sekitar area festival.

Hari ke-1
   Pada hari pertama, saya baru datang pukul 9 malam. Lalu saya pun langsung bergegas ke Dynamic Stage dimana Tulus akan tampil. Untunglah suasana pada hari pertama tidak begitu ramai. Mungkin karena hari pertama jatuh pada hari Jumat sehingga banyak orang yang bekerja dan tidak sempat untuk datang.
   Reff lagu 'Gajah' mulai dinyanyikan. Tulus pun keluar dari sisi panggung. Para penonton  ikut bernyanyi sepanjang penampilannya . Ia juga sempat menyanyikan lagu barunya yang berjudul 'Tukar Jiwa'. Tulus membuat saya terpukau dengan kelembutan suaranya. 'Teman Hidup' menjadi lagu penutup penampilannya malam itu.
                                             


    Setelah penampilan Tulus, saya sempat bimbang memilih antara Barasuara atau HiVi karena jadwal penampilan mereka yang bentrok. Namun pada akhirnya pilihan saya jatuh kepada HiVi. Langsung lah saya menuju ke Lake Stage yang ada di samping kanan Dynamic Stage.
   Penampilan HiVi membuat mood malam itu menjadi semakin ceria. Lagu-lagu yang mereka bawakan memberi energi positif kepada penonton. Walaupun ada juga beberapa lagu yang membuat saya bergalau ria, salah satunya 'Pelangi'.


    Efek Rumah Kaca menjadi pamungkas pada hari pertama. Ketidakhadiran Cholil (vokal) tidak lantas membuat semangat penonton surut. Walau memang tak dapat dipungkiri terbesit sedikit rasa kecewa. ERK didampingi beberapa vokalis dari band lain seperti, Iga Massardi dari Barasuara, Arina dari Mocca, dan masih banyak lainnya. Ade Paloh mendapat porsi lagu paling banyak. Lagu 'Cinta Melulu' menutup hari pertama dengan sempurna.


Hari ke-2
   Sama seperti hari pertama, penampilan yang ingin saya saksikan pertama berada di Dynamic Stage. Float menjadi band pembuka di panggung utama tersebut. Penampilan mereka memanglah berkualitas. Sayangnya, mereka tidak membawakan dua lagu andalannya; 'Pulang' dan 'Sementara'. Mereka hanya membawakan satu lagu andalannya yaitu '3 Hari untuk Selamanya' yang dikenal  karena menjadi OST film ternama yang judulnya sama dengan judul lagu tersebut. Akibatnya di penghujung penampilan mereka, para penonton berteriak "WE WANT MORE" yang sebenarnya juga tak mereka hiraukan.


   Setelahnya, saya beristirahat sejenak. Lalu, Saya berkeliling dan melihat-lihat tenant F&B yang tersebar. Untuk membeli barang di tenant-tenant tersebut saya tidak perlu repot-repot menukarkan uang ke dalam bentuk e-cash atau semacamnya. Di festival ini, para tenant menerima uang tunai maupun kartu. Cukup sederhana bukan?
   Sekitar pukul 7.30 saya menuju ke District Stage untuk menyaksikan Teddy Adhitya. Sesampainya saya di District Stage, ternyata Ebiet G Ade masih tampil diatas panggung. Ia menyanyikan lagu legendarisnya yang berjudul 'Berita Kepada Kawan'. Kebetulan juga, Bapak Jokowi hadir di tengah penonton.
   Setelah sekitar 15 menit Ebiet G Ade selesai tampil, barulah Teddy Adhitya masuk ke dalam panggung. Penampilan Teddy begitu menghibur. Setlistnya ditata dengan cantik. Ia juga bisa memilih waktu yang tepat untuk mengeluarkan leluconnya.Di akhir penampilan, Teddy tampil shirtless di atas panggung.


   Selepas penampilan Teddy Adhitya, saya diajak untuk ke Forest Stage. Panggung dimana Tohpati akan tampil. Tetapi saya menonton mereka hanya sebentar saja karena saya berencana untuk menonton Jogja Hiphop Foundation.
   Saya berjalan kembali ke Disrict Stage dengan sedikit santai. Dikarenakan jadwal performance Jogja Hiphop Foundation masih sekitar 20 menit lagi. Benar saja, ketika saya sampai di panggung itu, Sweet Martabak masih menyanyikan lagu ikonik mereka 'Tididit'. Menjelang akhir penampilan, seluruh rapper yang tergabung dalam Pesta Rap berkumpul dan mempersembahkan lagu 'Bebas Lepas' untuk Iwa K.
   Selang beberapa menit setelahnya, suara gamelan yang sudah di-mixing mulai terdengar. Pertanda bahwa Jogja Hiphop Foundation akan segera keluar dari backstage. Mereka pun keluar dengan baju batik yang merupakan ciri khas dari grup ini setiap kali manggung. Mereka dikenal masyarakat karena semua lirik lagunya yang berbahasa jawa dan identik dengan Jogja. Ketika penampilan mereka sudah mau menuju akhir, 'Jogja Tetap Istimewa' yang merupakan lagu andalan mereka dibawakan. 'Jogja Ora Didol' menjadi lagu yang menutup performa mereka malam itu.


   Penampilan yang akan saya tonton selanjunya adalah dari Fourtwnty. Ini kedua kalinya saya menonton mereka. Bedanya saat ini saya berada di barisan depan sehingga saya bisa melihat mereka tanpa terhalang kepala-kepala orang lain.
   Para Stage Crew mulai menyiapkan properti untuk Fourtwnty, salah satunya mug betawi yang sudah menjadi ciri khas mereka setiap tampil. Tak lama, Nuwi (gitar) mulai masuk. Disusul oleh Ari (vokal) dengan kostum sederhananya. Disini mereka menyanyikan lagu baru mereka yang berjudul 'Kita Pasti Tua' untuk pertama kalinya. Penampilan mereka diakhiri dengan meriah. Semua penonton berdansa ria dengan lagu 'Fana Merah Jambu'.


Hari ke-3
   Pada hari ketiga saya masih tetap mengawali tontonan saya dari Dynamic Stage. Musisi yang akan saya tonton aksinya adalah Kahitna. Ketika sampai disana, saya benar-benar dibuat terkejut. Penonton yang ada jauh lebih banyak daripada hari-hari sebelumnya. Belum ada 10 menit sebelum Kahitna tampil, area sekitar panggung sudah dipadati begitu banyak penonton. Untung saja saya tetap bisa mendapat barisan tengah.
   Jeritan para perempuan mendominasi ketika Kahitna keluar dari backstage. Apalagi setelah Mario mengedipkan sebelah matanya ke arah penonton. Lagu 'Mantan Terindah' sukses membuat sebagian penonton teringat mantan mereka. Entah itu mantan pacar, mantan gebetan, atau mantan-mantan lainnya. 'Cantik' merupakan lagu terakhir yang dibawakan oleh Kahitna.


   Setelah break maghrib, acara dilanjutkan dengan penampilan Payung Teduh. Sebelum Payung Teduh masuk keatas panggung, para penonton yang berada di barisan belakang berteriak ke penonton barisan depan untuk menontonnya sambil duduk. Tetapi ketika Payung Teduh sudah masuk keatas panggung, Comi (bass) menyuruh semua penonton untuk berdiri. Penampilan mereka berlangsung meriah. Terlebih lagi saat lagu 'Akad' yang merupakan lagu terakhir dibawakan. Semua penonton pun ikut bernyanyi sepanjang lagu.


   Selanjutnya, Naif membuat malam semakin meriah. David (vokal) selalu bisa menghibur penonton dengan caranya sendiri. Lightning yang pas membuat penampilan mereka semakin menarik untuk ditonton. Naif membawakan lagu-lagu andalannya seperti, 'Piknik 72', 'Mobil Balap', dan lain-lain. Di penghujung penampilan mereka, David tampil shirtless dan langsung membuat para perempuan menjerit-jerit.



   Sesudah itu, saya berisitirahat sejenak sembari menunggu penampilan Stars and Rabbit. Saya menunggu penampilan mereka ditemani martabak dan segelas es kopi yang rasanya menurut saya aneh. Tak lama, saya pun langsung menuju ke District Stage.
   Adi (gitar) masuk dari sisi kiri panggung. Disusul oleh Elda (vokal) dengan ciri khasnya setiap manggung yaitu tanpa alas kaki. Penampilan mereka berlangsung meriah. Para penonton ikut bernyanyi sepanjang penampilan mereka. 'Man Upon The Hill' menjadi lagu pamungkas mereka malam itu.



   Glenn Fredly menjadi penutup pada hari ketiga. Pada malam itu, dia hanya membawakan lagu-lagu "bahagia"-nya. Tak ada satu pun lagu galau andalannya yang dibawakan. Entah apa alasannya.


 
   Secara keseluruhan, Synchronize Fest merupakan festival yang sangat layak untuk ditonton. Saya tak sabar menunggu Synchronize Fest tahun depan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tetesan Air Surga di Air Terjun Madakaripura

      Air tejun ini merupakan salah satu destinasi wisata yang sudah saya idam-idamkan sejak lama. Berbulan-bulan sudah saya merencanakan perjalan kali ini. Dan pada akhirnya baru bisa direalisasikan pada bulan Juni lalu.    Seperti perjalanan saya sebelum-sebelumnya, saya ditemani Ibu saya ke Air Terjun Madakaripura ini. Kami menyewa seorang guide untuk membimbing perjalanan kami. Setelahnya kami langsung memulai perjalanan menuju air terjun.    Di awal perjalanan, terlihat keindahan Air Terjun Madakaripura yang dikelilingi pepohonan hijau. Jalan yang harus ditempuh untuk ke air terjun tidak terlalu terjal. Tetapi kita tetap harus berhati-hati karena terdapat banyak lumut di pinggiran jalannya. Apalagi pada saat itu hujan baru saja selesai turun.      Gemericik air mulai terdengar pertanda kami sudah dekat dengan tujuan kami. Sebelum benar-benar mencapai air terjun, kita diharuskan untuk menyebrangi sungai yang alirannya cukup ...

Aroma Kopi dan Hujan Sore

    Hujan mengguyur Kota Jogja sore itu. Rencana saya untuk melihat sunset di Taman Buah Mangunan pun terpaksa dibatalkan. Setelah itu, saya langsung merubah haluan ke Klinik Kopi di daerah Jalan Kaliurang.      Aroma khas kopi langsung tercium dari depan pintu masuk Klinik Kopi, membuat saya ingin segera mencicipi kopi buatan  Mas Pepeng. Namun, sebelumnya saya harus mengambil nomor antre.      Setelah menunggu selama 30 menit, giliran saya tiba. "Suka kopi yang gimana mbak?" tanya Mas Pepeng "Yang agak manis mas" balas saya. Ia pun menjelaskan kopi-kopi dari berbagai daerah di Indonesia yang tersedia di toples. Kopi yang tersedia disini hanya kopi jenis arabika. Pada akhirnya, saya memilih Sari Manih dari Sumatera Barat. Mas Pepeng melakukan brewing dengan metode V60. Disini sebenarnya kita juga bisa memilih metode karlita. Mas Pepeng dibantu oleh Mas Sigit untuk melayani saya dan mama saya. Rasa yang dihasilkan dari sari mani...