Langsung ke konten utama

Kobaran Api Biru Kawah Ijen

Suara alarm membangunkan saya kala itu. Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam.  Saya terpaksa hanya tidur dua jam demi melihat api biru yang terkenal istimewa.
Perjalanan dari penginapan ke Kawah Ijen memakan waktu sekitar 3 jam. Jalur yang harus ditempuh pun berkelok-berkelok. Pemandangan kiri dan kanan jalan terdapat perkebunan kopi. Namun karena masih malam saya tidak bisa melihatnya dengan jelas.
Sesampainya di sana, saya langsung menyewa pemandu dan membeli tiket di pos. Jarak antara pos ke puncak adalah 3 km. Jika ingin turun ke bawah untuk melihat api biru kita harus berjalan 1 km lagi.  Pada 1 km pertama, saya harus menempuh tanjakan yang agak curam. Setelahnya, masih ada beberapa tanjakan lagi tetapi tidak securam sebelumnya. Di tengah perjalanan saya terpaksa berpisah dengan mama saya karena ia merasa sudah tidak kuat untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya, saya hanya berdua dengan pemandu. Semakin dekat dengan puncak, bau belerang semakin tercium.
Ketika sampai di puncak, saya menemukan banyak penambang belerang. Saya memutuskan untuk istirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke dasar kawah. Jalur yang harus ditempuh untuk ke dasar kawah lebih sulit, satu-satunya pijakan adalah batu-batu yang entah sengaja disusun atau tidak. Jika salah langkah sedikit bisa saja langsung jatuh. Untungnya di beberapa tempat ada batas kayu yang bisa digunakan sebagai pegangan.
            Hasil memang tidak pernah mengkhianati usaha. Perjalanan yang sulit dan melelahkan itu terbayarkan dengan api biru yang benar-benar menakjubkan. Beruntung saya masih sempat melihatnya walaupun sudah jam 5 pagi.


            Sekitar pukul setengah enam, saya kembali ke puncak. Disana saya bertemu lagi dengan mama saya yang ternyata berhasil mendaki sampai puncak. Sayangnya, angin membawa kabut kearah saya sehingga
 saya tidak bisa melihat kawah dengan jelas. Ketika perjalanan pulang, terdapat hutan mati yang menarik di kiri jalan.









            Sepulangnya dari Kawah Ijen, saya menyempatkan diri ke Air Terjun Kali Pahit. Air disini berasal dari belerang di Kawah Ijen dan masih sangat jernih. Tempat ini juga tidak terlalu ramai jadi saya bisa bebas mengambil foto tanpa terhalang orang lain.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Synchronize Fest 2017: 3 Hari Penuh Musisi Lokal Berkualitas

       Oktober lalu saya menyempatkan diri untuk datang ke Synchronize Fest  2017. Synchronize Fest  adalah festival tahunan yang diselenggarakan di Gambir Expo Kemayoran. Acara ini berlangsung selama 3 hari. Sesuai dengan slogannya " It's not just a festival, it's a movement", festival ini bertujuan untuk memajukan karya-karya musisi lokal. Berbagai macam genre musik dari lintas generasi ada disini. Tak hanya musik, karya seni lain juga ada disini. Salah satunya mural yang digambar oleh sekumpulan remaja di sekitar area festival. Hari ke-1    Pada hari pertama, saya baru datang pukul 9 malam. Lalu saya pun langsung bergegas ke Dynamic Stage  dimana Tulus akan tampil. Untunglah suasana pada hari pertama tidak begitu ramai. Mungkin karena hari pertama jatuh pada hari Jumat sehingga banyak orang yang bekerja dan tidak sempat untuk datang.    Reff lagu 'Gajah' mulai dinyanyikan. Tulus pun keluar dari sisi panggung. ...

Tetesan Air Surga di Air Terjun Madakaripura

      Air tejun ini merupakan salah satu destinasi wisata yang sudah saya idam-idamkan sejak lama. Berbulan-bulan sudah saya merencanakan perjalan kali ini. Dan pada akhirnya baru bisa direalisasikan pada bulan Juni lalu.    Seperti perjalanan saya sebelum-sebelumnya, saya ditemani Ibu saya ke Air Terjun Madakaripura ini. Kami menyewa seorang guide untuk membimbing perjalanan kami. Setelahnya kami langsung memulai perjalanan menuju air terjun.    Di awal perjalanan, terlihat keindahan Air Terjun Madakaripura yang dikelilingi pepohonan hijau. Jalan yang harus ditempuh untuk ke air terjun tidak terlalu terjal. Tetapi kita tetap harus berhati-hati karena terdapat banyak lumut di pinggiran jalannya. Apalagi pada saat itu hujan baru saja selesai turun.      Gemericik air mulai terdengar pertanda kami sudah dekat dengan tujuan kami. Sebelum benar-benar mencapai air terjun, kita diharuskan untuk menyebrangi sungai yang alirannya cukup ...

Aroma Kopi dan Hujan Sore

    Hujan mengguyur Kota Jogja sore itu. Rencana saya untuk melihat sunset di Taman Buah Mangunan pun terpaksa dibatalkan. Setelah itu, saya langsung merubah haluan ke Klinik Kopi di daerah Jalan Kaliurang.      Aroma khas kopi langsung tercium dari depan pintu masuk Klinik Kopi, membuat saya ingin segera mencicipi kopi buatan  Mas Pepeng. Namun, sebelumnya saya harus mengambil nomor antre.      Setelah menunggu selama 30 menit, giliran saya tiba. "Suka kopi yang gimana mbak?" tanya Mas Pepeng "Yang agak manis mas" balas saya. Ia pun menjelaskan kopi-kopi dari berbagai daerah di Indonesia yang tersedia di toples. Kopi yang tersedia disini hanya kopi jenis arabika. Pada akhirnya, saya memilih Sari Manih dari Sumatera Barat. Mas Pepeng melakukan brewing dengan metode V60. Disini sebenarnya kita juga bisa memilih metode karlita. Mas Pepeng dibantu oleh Mas Sigit untuk melayani saya dan mama saya. Rasa yang dihasilkan dari sari mani...